P R O J E C T  BANDA EKSISTENSI YANG DILAHAP OLEH WAKTU

Sebuah program CSR Kopikalyan berkolaborasi dengan Heka Leka sebagai mitra utama di bidang pendidikan. Di tahun 2022 ini Kopikalyan akan berkontribusi bersama Heka Leka guna untuk membantu kebutuhan pendidikan bagi anak-anak PAUD di gugusan kepulauan Banda. Program CSR ini dilaksanakan dengan cara pembagian profit dari penjualan produk eksklusif Kopikalyan x Heka Leka, pengumpulan donasi melalui Kitabisa.com dan pengadaan Drop Box Buku Bekas disetiap outlet Kopikalyan untuk anak-anak PAUD disana. Semua jalur donasi ini akan terus dibuka dan dikumpulkan hingga akhir bulan Oktober 2022 dan akan disalurkan bersama Heka Leka langsung ke Kepulauan Banda.

 

KENAPA HEKA LEKA DAN BANDA?

 Heka Leka adalah sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang berfokus untuk meningkatkan mutu pendidikan di kepulauan Maluku. Heka Leka didirikan oleh Stanley Ferdinandus pada tanggal 7 September 2011. Heka Leka hadir setelah tragedi konflik tahun 1999 di Maluku. Konflik tersebut menyebabkan Maluku mengalami kualitas pendidikan yang buruk dan melemahkan ekonomi. 

 

Melihat kenyataan ini, Stanley bersama dengan anak-anak muda Maluku membuat gerakan mengajar yang bernama “Dua Jam Untuk Maluku”. Bertindak sebagai pemimpin, Stanley memfasilitasi para tenaga pengajar muda dari Maluku untuk mengajar dan menginspirasi anak-anak di Maluku selama dua jam setiap minggunya. Gerakan ini menjadi pionir yang menginisiasi gerakan Heka Leka di Ambon.

 

Tidak hanya orang-orang dari Maluku saja, namun terdapat juga banyak orang-orang dari bagian-bagian Indonesia lainnya yang turut aktif berkontribusi sebagaimana Heka Leka terus tumbuh secara signifikan. Alasan Kopikalyan memilih Heka Leka sebagai mitra untuk menjalankan program CSR ini adalah karena Heka Leka percaya bahwa pendidikan merupakan sebuah gerakan kolektif. Karena, memberikan pemahaman dan meningkatkan kesadaran bagi masyarakat Maluku betapa pentingnya pendidikan itu merupakan sebuah usaha yang harus menjadi sebuah keberlanjutan yang dicapai pada gerakan ini.

 

BERDIRINYA KEPULAUAN BANDA

 

Banda tercipta dengan berbagai macam nama. Wandan, Andare, Andan dan Neira. Neira, nama yang banyak disebutkan dalam laporan kolonial bangsa Portugis, Belanda (VOC) hingga Inggris. Kartograf milik VOC banyak menuliskan Banda Naira sebagai “Eiland Neira”, atau terkadang cukup ditulis sebagai “Banda”. Mungkin kata “Banda” ini merupakan bentuk dari penyempitan ketiga nama sebelumnya yaitu Wandan, Andare dan Andan. Bukan hanya sekedar penyempitan nama dari “Bandar” yang menandakan sebagai tempat perdagangan semata. Tidak. Penjelasan yang paling mendekati kebenaran terkait penamaan “Neira” adalah karena terdapat seorang sosok perempuan yang menjadi tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam di wilayah Maluku. Menurut syair kabata (folklore Banda) sosok ini bernama Nirawati Watro. Penyebutan “Neira” mungkin adalah berupa panggilan dari kepada sosok itu, “Nira”.

 

Banda Naira, nama yang dipilih oleh Des Alwi. Walau banyak sejarawan dari barat masih menyebutnya dengan Banda Neira. Padahal arti dari kata “Naira” merupakan serapan dari kosakata bahasa Arab yaitu “Nayira” yang berarti cahaya yang maju. Des Alwi memiliki tekad untuk menjadikan Banda Naira sebagai kota yang maju. Eksistensinya yang populer karena kaya-raya akan rempah-rempah dan kekayaan alam lainnya. Negeri yang memiliki peradaban tinggi, maju dan makmur. Maka dari itu, Des Alwi memilih nama Banda Naira sebagai perwujudan dari sebuah tekad, mimpi dan harapan. 

 

 

BANDA DENGAN SEGUDANG POTENSI ALAM DAN SEJARAH PENTING LAINNYA

   

Kepulauan Banda pada abad ke 16 dan 17, pernah menjadi kontestasi besar bagi bangsa - bangsa Eropa seperti Belanda, Portugis, dan Inggris. Namun membuat Banda spesial adalah karena kekayaan alam yang dimilikinya. Pala atau nutmeg adalah salah satunya. Komoditas ini memiliki nilai lebih berharga dibandingkan emas, persentasenya dalam pertukaran dengan emas bisa mencapai beratus kali lipat pada masa itu. 

Garis sejarah kepulauan Banda tidak berhenti disitu saja. Pada tahun 1936, semasa pendudukan kolonial Belanda, Banda pernah menjadi tempat pengasingan untuk beberapa tokoh sentral dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka adalah Mohammad Hatta atau biasa disapa Om Kacamata oleh Des Alwi dan Sutan Sjahrir, orang-orang lokal menjulukinya Bung Kecil namun isi kepala seluas cakrawala membentang.

 

Kehadiran mereka yang membuat kepulauan Banda ini memahami secara perlahan betapa pentingnya pendidikan bagi warga lokal, terutama Des Alwi. Pada masa pengasingannya, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir membangun “Sekolah Sore” khusus anak-anak Banda untuk meningkatkan mutu pendidikan di Banda Naira. Sekolah Sore Hatta-Sjahrir sangat sederhana. Hanya ada 1 kelas yang terdiri dari 7 meja kayu, 1 papan tulis hitam. Mereka membagi tugas, Hatta mengajar anak-anak yang lebih besar, sedangkan Sjahrir mengajar anak-anak yang lebih kecil. 

 

Gugusan kepulauan Banda memiliki beberapa komoditas utama yang menjadi sumber pendapatan para masyarakat disana yaitu pala, kenari, cengkeh dan perikanan. Namun yang memiliki nilai secara budaya, sejarah, dan ekonomi komoditas yang paling melekat dengan masyarakat Banda adalah Pala Banda. 

 

Interaksi antara buah pala dengan para masyarakat kepulauan Banda merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Bagaimana bisa dipisahkan? Secara historis saja buah pala memiliki ikatan tersendiri dengan masyarakat yang hidup di kepulauan Banda ini. Dimulai dari bangsa Persia, bangsa pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan ini. Kemudian bangsa Tiongkok. Sebagaimana yang tercatat dalam manuskrip milik Dinasti Ming bahwa pada tanah “Wandan” ini terdapat tanaman pala, kenari dan cengkeh yang merupakan tanaman endemik. Secara ekonomis, buah Pala Banda ini memiliki nilai jual yang sungguh kuat. Sehingga tidak mungkin masyarakat kepulauan Banda melepas buah pala secara mudah.
 

 

MEMAKSIMALKAN POTENSI ALAM DEMI KEMAKMURAN BANDA

 

Salah satu cara memaksimalkan potensi-potensi yang dimiliki oleh gugusan kepulauan Banda adalah dengan memajukan potensi sumber daya manusia yang ada disana. Mengapa? Untuk mengelola kekayaan alam dan budaya yang hadir di kepulauan Banda dibutuhkan kemampuan sumber daya manusia yang memadai. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat gugusan kepulauan Banda perlu memaksimalkan potensi dari kekayaan alam dan budaya yang mereka miliki.

 

Sebagaimana yang telah Des Alwi lakukan, tekad dan semangat dalam membangun Banda harus diwariskan kepada generasi-generasi muda sebagai pionir dan navigator untuk masa depan. Agar tekad dan semangat dari Des Alwi bisa terwariskan dengan baik terutama kepada para bibit dari generasi muda. Lahir dari spirit ini, Kopikalyan akhirnya memilih Banda menjadi program CSR, berupa project kolaborasi dengan HekaLeka untuk anak-anak di Maluku, yang bertujuan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia di gugusan kepulauan Banda terutama bagi anak-anak balita yang ada disana.

Ditulis oleh: Gusmara Agra

SAYA INGIN BERKONTRIBUSI!

BELI PRODUK KOLABORASI

KOPIKALYAN x HEKA LEKA

berita-tokopedia-info-berita-terbaru-tokopedia-6.png
berita-tokopedia-info-berita-terbaru-tokopedia-6.png

Kopikalyan

Rotikalyan

Website Shop

DONASI MELALUI

KITABISA.COM

Logo Kitabisa.png

DROP DONASI

BUKU BEKAS

50CD7DFD-3E30-42CA-8EA2-70A6E7A4BE27.JPG